Beberapa bulan yang lalu, saya membaca laporan wartawan Tempo, “Sejarah Tumbuh di Kampung Kami - Catatan dari Aceh, Jantung Zona Panas Tsunami” oleh Mardiyah Chamim. Bagi saya, buku yang saya peroleh dari kantor Yayasan Air Putih itu sangatlah emosional. Buku itu menceritakan tentang rumitnya distribusi bantuan logistik dan pengambilan keputusan di antara berbagai kepentingan dari pihak-pihak yang datang untuk membantu Aceh. Tak lupa juga sudut pandang dari korban-korban, baik yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung, dikupas dengan lugas.

Saya hanya tidak menyangka, apa yang saya baca itu sebagian saya saksikan sendiri di Lombok, pulau tempat saya lahir dan tumbuh. Meskipun musibah di Lombok tidak sekolosal Tsunami Aceh, perjalanan ke sisi utara pulau cukup mudah membuat hati saya teraduk-aduk tak keruan. Pahit. Sesak. Duka yang dalam.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu Lombok, baik dengan materiil maupun moril. Semoga Lombok lekas pulih!