“Tumben?”

Tidak kujawab. Kulepas tas selempang dan mengeluarkan buku-buku yang akan dikembalikan.

“Kenapa lesu begitu?”

Aku menahan diri untuk tidak berkata-kata yang tidak perlu dan berbisik, “Dendanya jadi berapa?”

Dian, pustakawan yang bertugas siang itu, memeriksa buku-buku yang dikembalikan, mencocokkan dengan arsip peminjaman dan berkata, “25 rupiah.”

Aku mendengus, merogoh dompet.

Dian meletakkan buku-buku itu di atas tumpukan buku-yang-dikembalikan-hari-ini. Kulirik tumpukan itu, ada sesuatu yang menarik sepertinya. Kemudian mendadak terdengar langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa dari lorong. Milik wanita berambut kusut yang wajahnya jauh lebih murung dariku. Bahkan Dian juga menoleh. Oh, mungkin semua orang yang sedang membaca di ruangan itu juga menoleh, terganggu oleh langkah kaki yang (sepertinya disengajakan) terdengar keras itu. Wanita itu menebar pandangan ke sekeliling, menghela napas (yang juga terdengar, dia berisik sekali, bukan?), kemudian menyusuri rak buku dari pojok ruangan. Kugigit kuku, berpikir-pikir.

“Pernah lihat wanita itu kemari?”

“Tidak. Kamu kenal?”

“Tidak.”

“Terus kenapa tanya?” Dian memandangku seolah-olah aku terlalu tolol untuk berkata-kata. Tidak kujawab. Aku mengetukkan jari-jariku di meja sambil memandang sekeliling. Dian bilang hentikan karena berisik jadi kuhentikan. Bosan sekali hari ini. Seolah tidak ada buku yang bisa membuat bergairah, atau setidaknya belum kutemukan. Aku jadi bertanya-tanya buku macam apa yang sedang dibaca orang-orang di ruangan ini (aku sedang berpikir untuk mengelilingi meja itu sambil mengintip buku apa yang mereka baca, tapi tidak kulakukan juga). Malas sekali beranjak dari tempatku berdiri sekarang. Hanya sesekali memandang Dian yang (kelihatannya dia pura-pura) sibuk dengan berkas-berkas. Aku menggigit kuku lagi.

Mereka semua kelihatannya menyedihkan. Orang di meja sebelah kanan itu sedang membaca sambil mendengarkan musik dari walkman-nya, aku tidak bisa membaca buku seperti itu. Menurutku musik dan teks mesti dinikmati secara terpisah. Oh ya ampun, orang yang di dekat jendela itu membaca sambil memakan kudapan. Bisa saja kulaporkan ke Dian tentang hal itu tapi tidak kulakukan. Aku tidak peduli. Oh sebenarnya aku peduli tapi sedang pura-pura untuk tidak peduli. Kalau orang yang itu pasti sedang baca Harimau-harimau-nya Mochtar Lubis, kenal dari sampulnya. Yang itu mungkin Moby-Dick? Buku rumit. Tidak selesai baca, tapi aku suka. Dan orang yang di sana itu bahkan tidak melakukan apa-apa. Bengong saja. Sungguh menyedihkan sekali.

Aku ingin mencoba melihat-lihat lagi buku-buku di rak nomor 14, yang termasuk jarang dijamah. Tapi rasa-rasanya di sana tidak ada yang menarik. Benar-benar bosan. Perhatianku kembali tertuju pada tumpukan buku-yang-dikembalikan-hari-ini tadi. Tiba-tiba aku terhenyak, mataku mendadak nanar.

“Eh, itu buku X, bukan? Yang nulis si Y, kan?” aku berbisik lagi ke Dian, yang kemudian menoleh ke tumpukan buku itu.

Dian mengangguk. “Aku mau itu, pinjam,“ pintaku namun Dian menggeleng.

“Apa-apa yang ditumpuk di sini baru bisa dipinjam lagi besok. Kalau mau meminjam hari ini, silakan Bapak pilih yang ada di rak atau di meja baca, “ katanya. Dia sedang berpura-pura bersikap formal atau bagaimana, menjengkelkan. Kemudian dia bilang, dengan menggoda, “Ini buku langka lho. Sudah tidak ada yang jual lagi di toko buku.”

“Benar.”

“Tapi, meskipun ludes di toko buku, terkesan tidak banyak yang memiliki buku itu. Rasanya langka banget. Orang-orang saling bertanya untuk meminjam tapi seolah-olah tidak ada yang benar-benar memiliki buku itu. Terbit belum lama lalu mendadak langka.”

“Iya”

“Terus, Y sudah memutuskan kontrak dengan penerbit. Tidak ada lagi yang berhak menerbitkan bukunya–”

“Iya, aku tahu.”

“Dan Y itu bukan nama asli penulisnya, asal kamu tahu. Tidak ada yang tahu dia sebenarnya siapa, berusia berapa, atau–”

“Iya–”

“Terus, ada banyak laporan kehilangan dari orang-orang yang memilki buku itu. Seolah-olah–” dia berpikir sebentar, “– seolah-olah ada yang mencuri buku-buku itu dan berusaha melenyapkannya dari muka bumi.”

“Iya, aku tahu juga soal itu. Hei, Dian. Dengar. Meskipun kamu pustakawan, aku juga tahu hal-hal yang menyangkut buku seperti itu. Berhentilah menceramahiku.”

Dian terdiam, tapi kemudian dia berkata, “Tentu saja tidak. Aku sudah membacanya, sedangkan kamu belum. Kamu tahu? Mungkin tidak ada perpustakaan lain yang punya koleksi buku ini. Mungkin ini buku terakhir yang ada di kota ini. Buku ini –” dia menepuk-nepuk buku itu sambil tersenyum secara menjengkelkan, “– sungguh bagus.”

Aku lelah dengan percakapan bisik-bisik ini dan aku marah sekali. Kulihat wanita tadi masih menyusuri buku-buku, rak demi rak. Dia cari apa, sih? Mengapa tidak ia rapikan sedikit rambutnya itu? Kemudian kataku, “Hei, dengar. Izinkan aku meminjam buku itu hari ini. Maksudku, tidak ada bedanya, bukan? Lagi pula tidak ada yang protes, tidak ada yang menginginkannya selain aku.” Dian masih menggeleng. Dia kaku sekali jadi kawan.

“Kalau begitu, izinkan aku melihat buku itu sebentar saja,” aku tidak putus asa. Dian menatapku lurus-lurus sebentar, lalu mengambil buku itu dari tumpukan. Dia memperlihatkan padaku sampul depannya yang berwarna merah darah. Sampul kain. Punggung bukunya cokelat tua. Memang benar itu buku X. Ya ampun aku sedang membayangkan nostrilku sedang membaui aroma lembaran kertas dari buku itu.

“Maksudku, aku ingin pegang juga, aku ingin sentuh,” aku merajuk. Dian menggeleng dan hanya memperlihatkan beberapa halaman di dalamnya. Aku mencondongkan badanku sampai ke atas meja, lalu Dian menutup buku itu dan meletakkan kembali ke tumpukan.

Aku memundurkan badanku. Aku benci sekali wanita ini, si Dian. Kenapa dia tidak bisa berbaik hati sekali saja padaku? Setelah melihat buku itu, aku tak tahu lagi ingin membaca buku apa lagi. Aku hanya ingin buku itu. Aku hanya ingin membacanya sekali saja. Hari ini. Malam ini. Bukan besok. Tapi mungkin besok. Aku akan kesini lagi. Pasti.

Wanita yang langkah kakinya berisik tadi tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, memandang nanar ke buku yang aku inginkan itu. Kejadian berikutnya adalah hal yang menakjubkan. Wanita itu menaiki meja (padahal dia pakai rok!), mengambil buku itu, kemudian melompat lagi ke lantai.

Enak saja! Aku langsung menyergapnya, memegangi buku yang juga ia pegangi erat-erat. Kami bergulat di lantai, tapi ya ampun ia kuat sekali. Aku tidak terlalu ingat bagaimana kami bergumul tapi rasanya wajahku kena cakar, kupingku juga ketarik, gagang kacamataku bengkok. Orang-orang memisahkan kami. Kami berdua berdiri terengah-engah memandang satu sama lain sambil dipegangi oleh orang-orang yang melerai kami. Yang membuatku amat marah adalah, buku itu masih di tangannya. Sampulnya agak terkoyak sedikit, tapi buku itu ada di tangannya, bukan tanganku.

Tiba-tiba buku itu dirampas oleh Dian yang sekarang juga amat marah. Oh lihat, ia bahkan jauh lebih marah dariku.

“Kalian berdua,“ aku takjub ia bisa mengeluarkan suara bergetar seperti itu, “Kalian berdua keluar. Sekarang.”

Aku kurang yakin mengapa harus melakukan hal konyol ini : berdiri pagi-pagi sekali saat udara masih sangat dingin (hujan baru saja reda), bersandar pada pintu perpustakaan yang terkunci. Aku harus menjadi peminjam pertama buku itu hari ini. Oh mungkin tidak hanya kubaca sekali saja, setidaknya akan kupinjam 1 bulan untuk dibaca berulang-ulang. Masa bodohlah tentang denda.

Aku mengeluarkan kretek (dan kemudian mendadak masygul karena hanya tersisa sebatang). Masih belum cukup juga untuk menghangatkan tubuh. Lalu aku berusaha memikirkan tentang buku itu, mengapa ia mendadak langka. Adakah sesuatu di buku itu yang terlalu kurang ajar sehingga seseorang berusaha memusnahkannya (tapi Dian bilang buku itu bagus)? Apakah penulisnya tidak terheran-heran dengan langkanya buku tulisannya sendiri? Dan mengapa ia memilih anonim alih-alih mendapatkan ketenaran yang diinginkan kebanyakan orang? Aku jadi membayangkan diriku menandatangani buku dan antriannya panjang sekali, semua orang mengenalku dan para kritikus sibuk mencari-cari cacat. Rasanya tidak begitu seru. Kemudian aku memastikan bahwa diriku tidaklah termasuk bagian dari kebanyakan orang yang menginginkan ketenaran semacam itu.

Lalu aku memikirkan Dian tapi kemudian aku merasa tidak ingin memikirkannya sama sekali karena masih jengkel dengan sikapnya kemarin.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki. Aku membalikkan badan dan siap tersenyum pada siapa pun yang membukakan pintu. Kubuang dan kuinjak sisa kretekku. Pintu itu ternyata tidak dikunci, terbuka begitu saja pada kenopnya. Namun yang berdiri di sana adalah wanita berambut kusut dan berwajah murung itu, dengan buku tebal bersampul merah darah di tangannya.

Aku berang. Brengsek!

“Pencuri!” dan aku mengejarnya ke dalam gedung perpustakaan. Kami berlarian di sepanjang lorong, memasuki ruang perpustakaan, berkejar-kejaran di antara rak-rak buku, memasuki ruangan lain, naik dan turun tangga. Tiba-tiba ada yang mengejarku juga, rupanya satpam perpustakaan yang juga ikutan marah. Tetapi aku tidak peduli, aku hanya tak rela buku itu berada di tangan yang tak berhak.

Wanita itu cepat sekali. Mengapa aku begitu payah dalam banyak hal? Ia berlari ke arah pintu keluar, menabrak Dian yang langsung terjengkang ke lantai (Maaf, Dian, harus kejar dia dulu). Pencuri berlari ke jalan raya dan aku terus mengikutinya. Satpam yang (agaknya ia terlalu gemuk) tadi mengejar kami sudah berhenti dan membantu Dian berdiri. Wanita itu terus berlari, kadang-kadang menabrak orang-orang yang berjalan di trotoar. Ia tiba-tiba membelok ke gang sempit di antara gedung-gedung. Aku terus mengejarnya sampai ia terpojok. Sungguh, aku lelah sekali tapi aku tak tahu mengapa energiku tak habis-habis untuk mengejarnya.

Ia benar-benar terpojok di sana, di gang kecil di antara dua gedung tinggi. Aku mungkin tak sanggup menyergapnya sekarang karena begitu lelah. Kumanfaatkan waktu sebentar untuk mengatur napas. Wanita itu membalikkan badan, terengah-engah, lalu menjatuhkan buku itu ke tanah yang becek. Oh mengapa ia begitu kasar terhadap buku? Aku tergerak untuk mengambilnya namun wanita itu menodongkan revolver. Aku terhenyak, tak menduga dan mundur, tanganku terangkat secara otomatis, lututku lemas. Mampus.

Dengan tangannya yang lain, wanita itu mengeluarkan satu buku lagi dari tas kecilnya dan menjatuhkannya juga. 2 buah buku X! Lalu ia mengeluarkan botol minuman dan menumpahkan cairan ke buku-buku itu. Minyak. Ia mengeluarkan lagi sebatang kretek dan menyulutnya, kemudian berjongkok, lalu menyulut lagi pada buku-buku itu. Api.

Api berkobar, wanita itu mundur sedikit kemudian berjongkok lagi, menikmati kreteknya, hisap dan embus. Menit demi menit lewat. Api menjilat lamat-lamat. Aku ingin sekali menggigit kuku jari karena bosan, tapi revolver itu masih menjuntai di tangannya. Karena lelah berdiri, aku ikut berjongkok, dengan tangan tetap terangkat ke atas. Kuberanikan diri bertanya.

“Kamu siapa?”

Mataku terbelalak mendengar jawabnya. Kuturunkan tangan, ingin meminta kretek juga padanya jika ia mengizinkan. Oh tentu saja ia akan memberikannya dan membiarkanku ikut menikmati unggun kecil ini bersamanya. Y memandangku dengan senyum samar-samar. Langit sudah agak terang, abu-abu kertas yang tipis terbang.