Ibuku bilang itu puisi-puisi di bawah bantal
Yang dikirim padanya namun bukan untuknya
Yang mengusiknya saban malam

Ibuku bilang itu puisi-puisi di bawah bantal
Yang tak sempat kuhantarkan juga padamu
Yang membuatnya ketawa runyam

Ibuku bilang itu puisi-puisi di bawah bantal
Yang tak ada nyali buat kubacakan padamu
Yang kadang makna ia tak paham

Kalut ia punya anak lanang pengecut
Namun tersipu dan melempar tanya maut
“Siapa namanya?” Aku hening